Seperti senja hari ini. Seperti malam yang akan turun nanti.
Akan ada waktu-waktu dimana kita rela menanti untuk sesuatu yang memberi bahagia pada akhirnya.
Sebab tak ada penantian yang tak berujung.
Tak ada satu perjalanan tanpa titik akhir.
Aku percaya itu.
Tuhan sudah lama tahu, aku mencintaimu.
Ia tahu setiap perasaan yang tak kubisikkan pada banyak orang.
Ia tahu setiap doa yang kurapal dalam ibadahku.
Juga mimpi-mimpi yang kuharap setiap malam.
Ada detik dan menit yang tak berhenti berdetak.
Ada pagi yang kunanti.
Yang tak membuatku menyerah pada malam yang belum membawamu pulang.
Aku (masih) percaya itu.
Setiap ingin sesungguhnya membawa serta sebuah harap.
Jika tak ada kini, pastilah nanti.
Jika tak ada nanti, pastilah suatu ketika.
Jika ada banyak suara yang menyebutku tak realistis.
Aku hanya ingin menjadi sedikit lebih optimis.
Aku ingin menaruh harap sekali lagi,
Dan lagi.
Sampai kapankah?
Sampai kau mencintaiku...
Kau selalu membicarakan tentang sepi.
Padahal aku selalu ada di sampingmu.
Kau mengeluhkan hidup dan mengatakan betapa lelahnya berjalan sendirian.
Kau bahkan tak sadar, aku tak pernah meninggalkanmu.
Kau kerap bercerita tentang harapan yang berganti menjadi angan.
Tentang mimpi yang pupus, dan esok yang tak pernah pasti.
Seolah tak ada aku yang bersedia ikut bersamamu.
Kau tak pernah sadar, aku lah harapan itu.
Kau meminta satu janji untuk dikabulkan, bagai menunggu kekasihmu yang tak ingkar untuk membangun seribu candi.
Kau lupa, hal-hal sederhana yang telah kuberi sekalipun tak kauminta.
Kau tak menganggap hal itu berarti.
Kau terus menunggu, dan aku mulai lelah untuk meyakinkanmu.
Kau selalu mengatakan seandainya tentang dia.
Dan aku mengungkapkan jika kepadamu.
Jika kau tak mengharapkan.
Jika kau tak menanti.
Jika kau melihat ke arahku saja.
Jika kau tahu...
Aku mampu menjawab semua tanyamu.
Aku mampu memberi yang kau butuh.
Namun kau tak tahu.
Dan kau tak mau tahu.
Menunggu membuatmu lupa.
Ada aku di sisimu...
Hidup punya cara sendiri untuk bermain-main denganmu.
Dia ciptakan perpisahan.
Agar kau mengerti tentang pentingnya kebersamaan.
Hidup juga sering meletakkan kita pada momen ketiadaan.
Karena mungkin dengan cara itu, kita akan lebih menghargai apa yang kita miliki.
Jangan tanya tentang sebab.
Karena 'kenapa' tak pernah membuatmu berhenti bertanya.
Bukankah selalu ada alasan untuk segala sesuatu?
Dan hal itu kerap terjadi di luar kendali kita.
Ada waktu-waktu dimana kita mempertanyakan apa yang hidup dipilihkan kepada kita.
Kenapa ada kepergian?
Apakah perpisahan tak bisa ditunda?
Tak bisakah waktu berhenti barang sedetik saja?
Sebab yang kita mau, saat ini menjadi abadi.
Sebab kita ingin bahagia selalu seperti ini.
Dua hal yang tak pernah bisa kita kalahkan adalah waktu dan takdir.
Sayangnya, hidup memiliki kedua hal itu.
Namun, bukankah selalu ada pilihan?
Mungkin kita tak mampu memutar waktu berjalan mundur.
Namun ada ruang dalam ingatan tempat kita merangkum segalanya.
Tempat kita bisa kembali.
Untuk sekadar tersenyum, mengulang bahagia sejenak, juga mengimani cara hidup memilihkan ceritanya untuk kita.
Walau lewat cara paling sederhana.
Hanya dalam rupa bernama kenangan.
Setiap dari kita pernah mengalami kecewa.
Untuk beberapa alasan, kita sadar, karena hal itu bermula dari sebuah harap.
Karena yang terjadi, tak seperti keinginan.
Dalam kasusku, hal itu adalah tentang dirimu.
Kau mungkin sama seperti aku.
Kau mungkin mengumpulkan kecewa yang sama tentangku.
Kau tahu ketidak sempurnaanku, sedang memimpikan hal yang sempurna tentang aku.
Hingga terkadang kau memilih tak mau melanjutkan langkahmu lagi.
Entah kau takut tentang kecewa itu.
Atau kau ingin membiarkanku merasa sepertimu.
Namun ketahuilah sebuah cara dalam hidup.
Cinta tak akan berhenti tumbuh sampai salah satunya menyerah lebih dulu.
Apakah kau akan memilih cara itu?
Sebab aku belum menyerah padamu.
Sebab tak akan kuhentikan segala ingin, jika itu adalah tentangmu.
Kau harus tahu, seringnya hidup tak sejalan dengan angan.
Ketika kuimpikan dirimu, kau sedang berbahagia dengan mimpimu yang lain.
Jangan tanyakan kemana aku ketika langkahmu sedang tertuju padaku.
Kita perlu sepakat, jika kau datang, maka aku yang akan menunggu.
Begitupun sebaliknya.
Karena dua orang yang memilih jalan masing-masing, tak akan pernah mungkin beriring.
Jangan beri aku pilihan.
Tak akan kuberi tanya yang sama padamu.
Sebab hingga kini,
aku belum juga menyerah padamu.
Bagaimana jika aku menjamin padamu?
Bahwa tak ada yang mampu memberimu cinta terbaik selain aku.
Mungkinkah kamu memahami kesungguhanku?
Bagaimana jika kamu memberi kesempatan kepadaku?
Ada peyakinan yang sangat besar tentang arti bahagia.
Bahwa aku, satu-satunya yang paling tahu bagaimana menciptakan bahagia itu.
Hidup terkadang terlalu rumit untuk dipahami.
Perjalanan juga terlalu melelahkan untuk sekadar mencari.
Aku hanya ingin kamu tahu.
Ada lautan cinta yang pasti, sedang kamu memilih menanti segenggam harap.
Ada keberadaanku di sini, sedang kamu meratapi ketiadaan.
Jika waktu bisa meyakinkanmu setiap detiknya.
Sudah kupastikan tak akan ada ragu lagi.
Karena setiap tetes waktu yang berlalu,
adalah rasaku yang kian ingin, adalah harapmu yang tak pasti.
Entah...
Siapa yang boleh disebut bodoh?
Aku yang terlalu mencintai,
atau kamu yang terlalu sabar menanti?
Ada satu mimpi yang sampai hari ini tak pernah berakhir.
Mimpi itu tentang kamu.
Tentang harap yang selalu kujatuhkan kepadamu.
Dan suatu hari nanti, kau menerimanya dengan sungguh-sungguh.
Harapanku begitu.
Kamu adalah sejuta ingin yang kuminta diam-diam kepada Tuhanku.
Yang kubisikkan Sayang setiap kali aku melihat gambar wajahmu.
Meski itu hanya bisa kuucap dalam sendiriku.
Tanpa kamu tahu. Tanpa orang tahu.
Doa-doaku setiap malam.
Kamu mengerti bahwa cinta tak akan pergi kemana-mana sebelum ia sampai pada tujuannya.
Cinta tak akan habis karena selalu ada ruang untuk diisi kembali.
Dan kamu kelak menyadari, bahwa itu semua adalah definisi rasaku kepadamu.
Cintaku utuh.
Cintaku tak ada bandingannya selain yang kamu terima dari yang lain.
Mengertikah kamu?
Mimpiku tentangmu tak pernah berakhir.
Tak tahu, jika kelak kamu menyadarinya.
Akankah tetap begitu.
Atau malah berlipat ganda nantinya.
Cerita soreku hari ini: tentang kamu, masih kamu, selalu kamu.
Serpih harap dan angan yang kukumpulkan merupa dirimu.
Terkadang, aku sangat merindukanmu.
Hingga aku tak tahu, sanggupkah aku menunggu esok, demi untuk melihatmu lagi.
Jangan abaikan aku, ketika aku berada dalam titik terendahku.
Jangan melewatkanku, ketika aku sedang sungguh mencintaimu.
Bisakah, sejenak saja, kita duduk semeja.
Dan biarkanku memandangi setiap liku wajahmu.
Sebelum pejam mataku, melarutkan setiap ingatku tentangmu.
Sampai kamu pergi nanti, kamu mesti tahu...
Bahwa aku,
tak pernah sekalipun melewatkan detik tanpa mencintaimu.
Serpih harap dan angan yang kukumpulkan merupa dirimu.
Terkadang, aku sangat merindukanmu.
Hingga aku tak tahu, sanggupkah aku menunggu esok, demi untuk melihatmu lagi.
Jangan abaikan aku, ketika aku berada dalam titik terendahku.
Jangan melewatkanku, ketika aku sedang sungguh mencintaimu.
Bisakah, sejenak saja, kita duduk semeja.
Dan biarkanku memandangi setiap liku wajahmu.
Sebelum pejam mataku, melarutkan setiap ingatku tentangmu.
Sampai kamu pergi nanti, kamu mesti tahu...
Bahwa aku,
tak pernah sekalipun melewatkan detik tanpa mencintaimu.
Nanti dulu, jangan buru-buru pergi. Rinduku belum tuntas padamu.
Nanti dulu, jangan buru-buru pergi. Sampai aku benar-benar lelah mencintai. Meski aku tak yakin kapan saatnya itu.
Nanti dulu, jangan cepat-cepat mengaku. Sepeti aku yang malu-malu meminta Tuhan menjadikanmu milikku.
Nanti dulu, jangan keburu ingin lupa. Kalau kenangan sudah tak ada, bagaimana caraku mengingat kamu lagi?
Nanti dulu, jangan cepat kau pahami. Aku dan perasaanku bukan untuk dimengerti, namun untuk diterima.
Nanti dulu, jangan segera melepasku. Karena mungkin aku tak akan kembali lagi.
Nanti dulu, jangan menilaiku semudah itu. Karena aku tak pernah mencintaimu serumit itu.
Bagaimana
aku bisa mempercayaimu Gamal, jika kamu tidak bisa mempercayaiku. Aku bisa mengerti
semua yang telah kamu lakukan belakangan ini. Aku tahu kamu telah sangat
memikirkanku. Pernah kuucapkan suatu kali, bahwa sulit bagiku untuk tidak
menominasikanmu menjadi suami terbaik di dunia ini.
Kamu
punya segalanya yang kubutuhkan. Waktu, perhatian, cinta. Apalagi? Namun
sekarang aku mempertanyakan semua yang kamu miliki itu? Aku mempertanyakan juga
kesetiaan yang kamu janjikan dulu.
Apa
peranku bagimu sekarang? Apakah kamu sudah menganggapku sebagai orang lain?
Kamu bilang, hanya Terra teman yang bisa memahami tujuanmu datang ke panti.
Namun kamu bahkan tidak memberikan kesempatan padaku untuk mendengar dulu
keinginanmu. Jika saja kamu melakukan itu, apa aku akan benar-benar menolak
keinginanmu?
Aku
tak paham. Aku tak ingin paham.
Baru
kali ini, dalam sepanjang pernikahan kita, aku merasa tidak menjadi siapa-siapa
bagimu. Sedang kamu telah menjadi segalanya bagiku.
Kamu
telah melakukan banyak hal besar bagiku. Mengorbankan dirimu demi
kebahagiaanku. Namun apa yang bisa kuberikan padamu selain luka dan hilangnya
harapan kita.
Aku
benci mengatakan ini Gamal. Benci mengakui kalau kamu sudah begitu baik padaku.
Dan kebaikanmu justru menjadi bumerang buatku. Yang tiba-tiba menyerangku
karena aku tidak bisa menjadi sosok sebaik dirimu.
Aku
berpikir semalaman tentang hubungan kita. Waktu itu, aku pernah marah padamu
dan mengusirmu. Kamu pergi, kamu mengalah. Kamu membiarkanku melakukan itu
padamu. Kamu hanya memohon sebuah kesempatan agar kita bisa kembali.
Kali
ini, aku tidak akan memintamu pergi. Sebaliknya, kupikir aku yang tak perlu ada
di sisimu. Bukan untuk meninggalkanmu Gamal. Namun, aku butuh waktu untuk
sendiri. Aku butuh menepi sejenak dari semua permasalahan ini. Mungkin di luar
sana, aku bisa menemukan alasan terbaik jika pun kita harus bersama. Atau
mungkin, kamu lah yang akan menemukan jawaban dari keinginan-keinginanmu.
Gamal…
aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Namun, jika kita bertahan dengan pisau
di setiap perkataan kita masing-masing. Bukankah itu artinya kita sedang saling
melukai? Cinta seharusnya tidak seperti itu Gamal. Cinta seharusnya membuat
kita bahagia, bukan terluka.
Nanti,
jika perasaan hatiku sudah lebih tenang, aku yang akan menghubungimu lebih
dulu. Jangan cari aku, karena aku pergi bukan untuk dicari. Aku hanya butuh
waktu untuk dirku. Dan aku memberikanmu waktu untuk dirimu.
Soal
semua yang telah kamu jelaskan kemarin sore. Kamu tak perlu mengutarakan maaf
lagi, karena kamu memang tidak perlu. Aku telah menerimanya. Dan aku tahu, kita
hanya perlu membicarakan itu satu kali saja untuk kita bisa mengerti.
Aku
mencintaimu Gamal…
Ada pertarungan sengit tentang dirimu dalam pikiranku.
Tentang keinginan untuk melupakanmu selamanya, atau terus bertahan dan meyakini bahwa kau akan mencintaiku suatu ketika nanti.
Bagaimana caraku memilah kesadaran tentang dirimu?
Aku tak tahu.
Sebab sejak saat cinta bertuliskan namamu, hidupku bagai mimpi yang tak pernah tahu di ujung mana akan terbangun.
Tetap saja, cinta itu sebuah perkara yang sulit.
Meski aku telah mengatakan bahwa aku belajar dari kesalahanku setelah mencintaimu.
Aku masih saja mencari-cari sepotong cinta darimu, dan kuanggap itu sebagai sebuah petualangan terindah.
Aku masih saja mendambamu, dan kuanggap jadi candu yang membuatku tak ingin lepas.
Aku payah.
Aku kalah.
Aku telah memasung kakiku sendiri dalam bayang-bayang dirimu.
Aku yang kini tak bisa lari dari balik tubuhmu.
Sedang kau tak kunjung menoleh ke arahku,
Dan aku tak tahu, kapan waktu itu akan tiba.
Aku enggan menulis.
Namun pikiranku tak mau berhenti bicara.
Mulai dari sejumlah pertanyaan, hingga monolog yang kuberikan kepada diriku sendiri.
Atas sesuatu.
Tentang sesuatu.
Pagi ini, hari terasa indah untuk sebagian orang.
Bagiku, justru sebaliknya.
Ada kegelisahan yang ingin kutanyakan kepada Tuhan.
Meski aku tahu, jawaban itu akan datang pada waktu yang telah Ia tentukan.
Bukan pada saat yang paling kita inginkan.
Aku tahu, terkadang Tuhan menjawab doa-doa lewat orang-orang di sekitar kita.
Ia tak berdialog begitu saja.
Ia ingin kita belajar dan merasa lebih dalam.
Ia ingin kita mencari tahu.
Namun, bukankah terkadang ada lelah yang ingin kita tangguhkan.
Ada beban yang tak ingin kita sandang di bahu.
Bukan karena tak ingin.
Hanya karena kita manusia.
Ketabahan kita tak seperti malaikat yang utuh sepanjang masa.
Kita hanyalah manusia...
Mungkin terdengarnya, ini terlalu awal untuk diucapkan.
Tetapi, dalam 3 hari terakhir setidaknya, sudah beberapa kali aku merasakan, bahwa mungin aku tak akan bisa hidup tanpamu.
Tanpa mencintaimu. Walau sekejap saja.
Beberapa tahun lalu, kita memulai ini tanpa letupan cinta seperti yang dialami remaja.
Aku menilai, caramu mencintai begitu sederhana dan tak terlihat mengada-ngada.
Kamu tak memasang satu standar tertentu, bahwa mencintai seharusnya seperti ini, atau seperti itu.
Kamu mencintai dengan caramu seharusnya mencintai.
Dan kamu ingin dicintai, sebagaimana cinta itu semestinya mencintai.
Pagi lalu, ketika aku terjaga dan menemukanmu di sebelahku.
Aku telah merasakan momen terbaik dalam hidupku.
Dan aku berani bertaruh apapun, untuk menemukan pagi yang sama lagi seperti kemarin.
Tentu, dengan keberadaanmu.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang.
Terkadang, ketakutan itu muncul, bahwa perjalanan yang panjang ini akan diselipi beberapa luka.
Namun, tahukah kamu, bahwa sesungguhnya, aku tak pernah mencintai seseorang sebesar ini.
Sedemikian besarnya hingga aku tak punya pilihan kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Seperti yang kita tahu, tak ada yang sempurna di dunia ini.
Tidak kamu, dan tidak juga aku.
Namun, aku akan tetap mencintaimu.
Meski ini sepertinya terlalu awal untuk diucapkan.
Tetapi tetap saja...
...aku merasa bahwa aku tak akan bisa hidup tanpamu.
Aku, mungkin seperti kebanyakan orang lainnya.
Yang selalu menganalogikan cinta sebagai rumah.
Untuk kembali pulang.
Untuk beristirahat sejenak.
Untuk berlindung dari terik maupun dingin.
Dan kamu adalah pengelana yang selalu ingin pergi.
Yang selalu mencari.
Yang terkadang, berjalan seperti tak punya arah pasti.
Namun, semua pengelana pun butuh rumah.
Sesungguhnya pergi adalah sebuah perjalanan untuk kembali.
Maka, aku tak akan memintamu bergegas pulang.
Kubiarkan kamu berada di sebuah ruang bernama entah.
Biar kamu mencari apa yang ingin kamu cari.
Menemukan apa yang ingin kamu temukan.
Aku hanya perlu setia.
Pada peluk hangat yang selalu kujadikan sambutan atas kepulanganmu.
Pada senyum yang tak kugugurkan dengan segera begitu kamu datang.
Pada genggaman yang senantiasa hangat di sela-sela jarimu.
Welcome home, Sayang.
Telah kusiapkan kado terindah atas kedatanganmu.
Cinta...
yang tak pernah menolak adamu buatku.
Apa yang akan kamu lakukan ketika seseorang meletakkan sekotak kenangan
di depan rumahmu?
Menyisipkan sebagian yang ingin kamu ingat, dan sebagian lainnya tidak.
Mungkin ini lebih dari sekadar persoalan masa lalu dan ingatan.
Bahwa sebaiknya kaki yang telah melangkah, tak perlu lagi dijerat
bayang-bayang.
Bahwa kepalamu yang menatap lurus ke depan, sebaiknya tak perlu lagi
menoleh ke belakang.
Kita adalah manusia.
Mengingat-ingat adalah salah satu kegemaran kita.
Merupa kejadian dalam kepala, yang kerap mendulang senyum kembali.
Atau merasai lagi luka-luka yang lampau itu. Karena sakit di hati, tak
pernah bisa diobati, kecuali kita memilihnya sendiri.
Sesungguhnya, hidup kita tidak diperkarai hal itu saja.
Selemah-lemahnya ingatan menolak, bukankah hati tetap harus dikuatkan.
Jadi… jangan lekas gembira jika seseorang meletakkan sekotak kenangan
di depan rumah.
Kalau tidak ditinggalkan saja, sebaiknya kembalikan saja pada yang
punya.Masih saja aku mencintaimu.
Seolah, tak pernah habis perasaanku kepadamu.
Mungkin ini cinta yang tak akan pupus.
Seperti arah mata angin yang tak berubah.
Yang selalu membawa tatapan mataku tertuju padamu lagi.
Yang menjadikan hatiku, jatuh padamu kembali.
Aku masih di sini.
Di antara ragu dan harap yang saling berseteru.
Hatiku yang mengatakan iya.
Dan logikaku yang berkata tidak.
Kamu mungkin tak paham perasaan yang kumiliki.
Namun jikapun kamu paham, apa kamu bisa menggenapinya?
Melengkapi gambar hati yang separuh,
Yang kubuat padamu, dan tak kunjung selesai karena pilihanmu adalah tidak.
Masih saja aku mencintaimu.
Dibuat bodoh oleh perasaanku sendiri.
Ah, jika saja setiap kita bangun pagi, tak hanya hari yang diperbarui, namun juga hati dan pikiran.
Tak perlu aku mencintaimu lagi,
Tak perlu aku terkenangmu lagi.
Setiap dari kita pernah mengalami setidaknya satu momen dalam hidup dimana kita merasa terluka begitu dalam. Dan setiap dari kita, mengalaminya dalam berbagai rupa. Mungkin kehilangan, mungkin dikhianati, mungkin ditolak, mungkin juga terabaikan. Namun semua memiliki satu rupa yang sama yaitu menyisakan rasa sakit di hati.
Berangkat dari luka itu pulalah, premis kisah-kisah Blue Valley bermula. Berada di universe yang sama, sebuah komplek perumahan di selatan Jakarta, para tokoh memulai kisahnya. 5 penulis didapuk menjadi pencerita. Mereka yang telah berdialog langsung dengan para penghuni di sana. Bertemu dengan seorang wanita yang kehilangan cinta satu-satunya dalam hidup, lelaki muda yang menatap kelam sebuah hubungan, suami-istri yang tak lagi bertemu harap, dan lainnya. Kalian harus mendengarkan kisah mereka. Temui mereka dalam cerita-cerita yang ditulis dalam Blue Valley series.
Menyoal luka, saya mendapat kesempatan untuk bertemu Gamal dan Ninna. Suami-istri yang telah melewati 5 tahun kehidupan pernikahan. Sebagian besar dari kita setuju, bahwa pernikahan akan menjadi lengkap dengan hadirnya seorang anak. Begitupula Gamal dan Ninna. Mereka memulai kehidupan rumah tangga dengan perencanaan yang matang. Mereka bahkan memikirkan, desain rumah yang mereka inginkan, tanaman di halaman, dapur tempat Ninna memasak, juga termasuk anak. Berapa anak yang akan mereka punya? Bersekolah dimana kah? Kegiatan apa yang akan diikutinya? Namun rencana hanya menjadi mimpi yang tak pernah terealisasi ketika Ninna divonis kanker rahim dan harus menjalani histerektomi (operasi pengangkatan rahim), yang itu juga berarti, mereka harus mengubur impian untuk memiliki anak.
Hal ini yang kemudian menjadi fokus utama cerita Melankolia Ninna. Kita boleh saja bersedih karena kehilangan sesuatu. Namun, bagaimana jika yang hilang justru adalah sebuah harapan? Mimpi-mimpi yang telah dipupuk demikian lama.
Selama proses penulisan Melankolia Ninna, saya memposisikan diri berada di antara keduanya. Melihat Ninna yang mencoba bangkit lagi setelah momen duka, Juga menoleh ke arah Gamal yang ingin hidupnya terus berlanjut, namun kaki masih terantai duka yang lalu.
Bagaimanakah kedua orang ini melalui masalah yang mereka hadapi? Dengarkan kisah mereka dalam Melankolia Ninna. Terbit Desember 2016.
Baca juga kisah-kisah lainnya:
Elegi Rinaldo oleh Bernard Batubara
Senandika Prisma oleh Aditia Yudis
Asa Ayuni oleh Dyah Rinni
Lara Miya oleh Erlin Natawiria
Berangkat dari luka itu pulalah, premis kisah-kisah Blue Valley bermula. Berada di universe yang sama, sebuah komplek perumahan di selatan Jakarta, para tokoh memulai kisahnya. 5 penulis didapuk menjadi pencerita. Mereka yang telah berdialog langsung dengan para penghuni di sana. Bertemu dengan seorang wanita yang kehilangan cinta satu-satunya dalam hidup, lelaki muda yang menatap kelam sebuah hubungan, suami-istri yang tak lagi bertemu harap, dan lainnya. Kalian harus mendengarkan kisah mereka. Temui mereka dalam cerita-cerita yang ditulis dalam Blue Valley series.
Menyoal luka, saya mendapat kesempatan untuk bertemu Gamal dan Ninna. Suami-istri yang telah melewati 5 tahun kehidupan pernikahan. Sebagian besar dari kita setuju, bahwa pernikahan akan menjadi lengkap dengan hadirnya seorang anak. Begitupula Gamal dan Ninna. Mereka memulai kehidupan rumah tangga dengan perencanaan yang matang. Mereka bahkan memikirkan, desain rumah yang mereka inginkan, tanaman di halaman, dapur tempat Ninna memasak, juga termasuk anak. Berapa anak yang akan mereka punya? Bersekolah dimana kah? Kegiatan apa yang akan diikutinya? Namun rencana hanya menjadi mimpi yang tak pernah terealisasi ketika Ninna divonis kanker rahim dan harus menjalani histerektomi (operasi pengangkatan rahim), yang itu juga berarti, mereka harus mengubur impian untuk memiliki anak.
Hal ini yang kemudian menjadi fokus utama cerita Melankolia Ninna. Kita boleh saja bersedih karena kehilangan sesuatu. Namun, bagaimana jika yang hilang justru adalah sebuah harapan? Mimpi-mimpi yang telah dipupuk demikian lama.
Selama proses penulisan Melankolia Ninna, saya memposisikan diri berada di antara keduanya. Melihat Ninna yang mencoba bangkit lagi setelah momen duka, Juga menoleh ke arah Gamal yang ingin hidupnya terus berlanjut, namun kaki masih terantai duka yang lalu.
Bagaimanakah kedua orang ini melalui masalah yang mereka hadapi? Dengarkan kisah mereka dalam Melankolia Ninna. Terbit Desember 2016.
Melankolia Ninna oleh Robin Wijaya
Blue Valley series by Falcon Publishing
Di pojok
selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta
lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati
penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana.
Orang menyebut tempat itu Blue Valley.
Dari
gerbang, ambillah jalan ke kanan, dan temukan satu-satunya rumah yang berpagar.
Kau tidak akan salah. Pemiliknya adalah sepasang suami istri. Sang suami pandai
merupa kayu-kayu menjadi perabot yang indah, sedangkan sang istri menata rumah
dengan nuansa vintage yang meneduhkan. Bersama-sama, keduanya menghidupkan
ruang impian mereka: sebuah kamar bayi yang dipenuhi warna.
Namun, duka
menghampiri. Sang istri kehilangan rahimnya sebelum sempat mengandung impian
mereka. Menyisakan luka yang mewujud sebuah melankolia. Gamal dan Ninna,
menatap pupus harapan, seperti hidup yang hanya menyisakan warna kelabu saja.Baca juga kisah-kisah lainnya:
Elegi Rinaldo oleh Bernard Batubara
Senandika Prisma oleh Aditia Yudis
Asa Ayuni oleh Dyah Rinni
Lara Miya oleh Erlin Natawiria
picture by unsplash.com
Aku tahu...
Sebagian keindahan yang Tuhan ciptakan terangkum dalam matamu.
Satu-satunya yang tak pernah bosan kutatapi.
Yang tak mungkin kulewatkan dalam lelah sekali pun.
Ini siang tempat aku berlindung dari terik.
Menunggu dengar suaramu.
Sebagai teduh yang tak memerlukan apapun lagi sebagai pelengkapnya.
Aku mengerti seperti apa bahagia itu.
Ketika aku bersamamu, aku selalu merasa cukup.
Ketika kau ada, aku merasa lengkap.
Bolehkah kita menyemai harap?
Bolehkah aku menyebutmu segalanya?
Bolehkah kau balas mencintaiku dengan selalu?
Bolehkah?
Sore ini, ada yang lebih penting untuk kita lewati.
Batas di tepi hari.
Dimana kau akan memilih.
Jatuh ke pelukanku lagi.
Atau tenggelam bersama kenangan lama.
Apapun itu.
Tak mengubah takdirku padamu...
I owe the picture here
Tinggallah barang sejenak saja.
Tak kuhentikan waktu.
Biar bersamamu, meski sekejap.
Waktu terasa tak lekas usang.
Doa-doa malam,
adalah wajahmu yang ku aminkan.
Celah-celah mimpi berisi namamu.
Ini aku.
Menyebutmu dalam bahagia.
Kau, lembar terakhir buku ceritaku.
Tempat aku menuju,
mengakhiri rindu.
Kuluputkan lupa.
Ingatanku adalah ruang-ruang tempat kau bersembunyi.
Cinta adalah caraku untuk mencari.
Dan upaya kita adalah temu di antaranya.
Tinggalah barang sejenak saja.
bersamamu...
tak ingin kusegerakan usai.
I owe the picture here
Kau tahu mengapa Tuhan menciptakan ruang di sela-sela jarimu?
Karena Tuhan akan mengirim seseorang untuk mengisi ruang tersebut.
Menggenggam jemarimu suatu saat.
Mendekatlah, telah kusiapkan pelukan terhangat ketika kau pulang.
Kau tak perlu menjamin kebahagiaanmu.
Seperti aku yang tak mampu memberikan bahagia yang terlampau sempurna.
Karena aku hanya punya sebuah janji sederhana.
Kesediaan untuk ikut menangis bersamamu ketika kau bersedih.
Atau luapan kegembiraan atas kemenanganmu.
Kau tahu kenapa kita selalu butuh rumah?
Karena dari sana lah cinta bermula.
Dan seperti perjalanan panjang yang berakhir dengan pulang.
Seperti itu lah seharusnya cinta.
Aku yang menunggumu di muka pintu.
Dan langkah kakimu yang menuju kepadaku.
Sini, telah kusiapkan sebelah genggaman tangan untukmu.
Seperti cinta yang Tuhan kirimkan pada ruang di sela-sela jariku.
Hanya kau yang mampu memenuhinya...


















