>>HUJAN pertama bersamamu. Aku tak mau lekas reda. Agar tak berpisah.
--HUJAN menyamarkan warna langit. Aku ragu-ragu, terang atau gelap yang akan muncul?
>>HUJAN meninggalkan jejak basah. Seperti cintamu yang tertinggal disini, selamanya.
--HUJAN meredupkan siang. Mungkin mengingatkanku, kalau tanpamu segalanya terasa senyap.
>>Air yang menggenang. Aku bertanya, karena HUJAN atau air matamu?
--Memandang genangan dari HUJAN. Aku berpaling segera, tak ada bayanganmu disana.
>>Cahaya di antara riak HUJAN. Aku percaya, kamu kembali tanpa tersesat.
--HUJAN tanpa pelangi. Mencintai dan patah hati di waktu yang sama.
>>HUJAN yang datang bersama awan. Apa kamu percaya takdir? Apa kamu percaya kita ditujukan kepada tempat yang sama?
--HUJAN seperti rindu. Jatuh di tanah kering, merekatkan celah. Seperti itu kah kamu?
>>HUJAN melekatkan embun di jendela. Kamu menatap dari luar. Masuklah ke dalam, agar bayanganmu tak samar di pandanganku.
--Suara HUJAN malam ini, seperti kamu yang bercerita. Bisikkan di telingaku, kamu juga mencintaiku.
>>Langit yang redup karena HUJAN. Aku tak kehilangan arah. Cintamu menjadi cahaya.
--HUJAN berangin dingin. Hatiku tetap hangat, dicintaimu dengan sungguh.
>>HUJAN melunturkan debu yang melekat. Seperti salah yang termaafkan, di hadapanmu.
--HUJAN yang reda, tak mampu menyembunyikan cahaya. Kita tak mungkin ingkar, sadar saling mencintai.
>>HUJAN terakhir, hanya turun satu kali. Tak ada yang kedua dan lainnya lagi setelah aku teduh bersamamu.
--Aku mendengar suaramu di antara riak HUJAN. Aku mengenalimu. Aku menemukanmu. Namamu tak pernah tenggelam di sana. Di antara ratusan rintik yang jatuh.
>>Lalu apa yang membuatmu ragu?
HUJAN pagi ini, seperti HUJAN di masa lalu. Yang berbeda adalah, kamu menemaniku.
Kita menyembunyikan kaki kita di dalam selimut tebal. Menyesap cokelat panas, dari cangkir yang sama. Duduk di kursi rotan. Berbagi ruang yang sempit, dengan cinta yang besar...
Karena pagi untuk kamu. Aku bangun, dan mencintaimu sekali lagi...
24 hours...
Seperti kalimat yang disekat oleh titik. Seperti kata diberi ruang oleh spasi. Cinta perlu jeda, agar tidak remuk karena terikat setiap saat.
Ketika hari berangsur pergi, digantikan malam sebagai pembatas pertemuan kita, aku tak akan menolak.
Biar kita pulang dengan membawa perasaan masing-masing.
Karena cinta yang sebenarnya tak akan hilang karena mimpi semalam.
Karena Tuhan memberi kesempatan.
Karena waktu tak pernah diam di tempat.
Seharusnya kita percaya, ada hari yang baru untuk kita bertemu.
Ada pagi yang baru, untuk cinta yang sama.
Ada harapan baru, begitu aku membuka mata.
Kamu, tak akan lenyap hanya karena aku lelap.
Jangan...
Jangan pernah ragu...
Kalau hari berakhir lagi dan kita pulang dengan perasaan masing-masing.
Ingat satu hal!
Malam hanyalah waktu untuk menyekat perasaan sesaat.
24 hours... menjadi siklus.
Pulang, lelap, bermimpi, terjaga, hari yang baru.
Pagi mengantar kita menemui hari.
Aku bangun, dan siap jatuh cinta lagi untuk kamu...
Bertahun-tahun yang lalu BEFORE US adalah sebuah cerpen berjudul
'Radith' yang tidak pernah terpikir oleh saya kalau akan saya kembangkan
menjadi sebuah novel. Sampai akhirnya saya menantang diri saya untuk
menulis novel kembali (setelah novel sebelumnya yang bergenre remaja
ditolak oleh GagasMedia pada tahun 2007), dan saya sangat tidak berminat
untuk menulis novel lagi sejak saat itu.
Lebih dari setahun lalu, naskah ini masuk dalam daftar panjang peserta kompetisi menulis GagasMedia 100% Roman Asli Indonesia. Masuk 20 besar, tapi belum beruntung untuk jadi juara. Sampai akhirnya pada Februari 2011 lalu, seorang crew GagasMedia menelepon saya dan mengabarkan kalau naskah ini akan diterbitkan. Pertengahan tahun 2011 naskah novel ini mulai masuk dapur penerbit. Dibaca ulang, dikoreksi dan akhirnya saya diminta untuk merevisi. Cukup melelahkan, karena seingat saya selama proses revisi tersebut saya cukup intens berhubungan dengan editor untuk membongkar naskah ini dan re-writing sampai 20-an chapter. Saya juga menghubungi beberapa teman saya untuk membantu menyempurnakan tokoh, konflik, dan isu affair dalam novel ini supaya terlihat logis dengan dialog-dialog yang terlihat rasional tapi tetap menggunakan bahasa yang indah dan puitis ala-ala tulisan saya di 2 buku sebelumnya, hehehehe.
And finally, it's DONE.
Soal judul dan cover, sudah saya share di catatan sebelumnya. Yang pasti, terima kasih luar biasa untuk teman-teman GagasMedia yang memperlakukan naskah saya dengan sangat layak (merasa terhormat bisa kerja sama bareng kalian). Designer covernya yang super filosofis (nggak pernah mikir, ada makna-makna terselubung di balik setiap detail covernya). Editor yang sudah menyempurnakan tulisan saya jadi lebih enak dibaca. Dan, orang yang berkali-kali ngomel di telepon dan bikin saya mingkem kalo ketemu (karena nggak tahu harus ngomong apa saking pinternya beliau membaca dan mengoreksi naskah), yeah, Mr. Christian Simamora, I adore you so much. Berharap novel ini bukan jadi yang pertama dan terakhir sekaligus.
And, here it is...
Naskah ini berwujud dan berdimensi sekarang...
BEFORE US bisa didapatkan di toko-toko buku mulai Februari ini.
Lebih dari setahun lalu, naskah ini masuk dalam daftar panjang peserta kompetisi menulis GagasMedia 100% Roman Asli Indonesia. Masuk 20 besar, tapi belum beruntung untuk jadi juara. Sampai akhirnya pada Februari 2011 lalu, seorang crew GagasMedia menelepon saya dan mengabarkan kalau naskah ini akan diterbitkan. Pertengahan tahun 2011 naskah novel ini mulai masuk dapur penerbit. Dibaca ulang, dikoreksi dan akhirnya saya diminta untuk merevisi. Cukup melelahkan, karena seingat saya selama proses revisi tersebut saya cukup intens berhubungan dengan editor untuk membongkar naskah ini dan re-writing sampai 20-an chapter. Saya juga menghubungi beberapa teman saya untuk membantu menyempurnakan tokoh, konflik, dan isu affair dalam novel ini supaya terlihat logis dengan dialog-dialog yang terlihat rasional tapi tetap menggunakan bahasa yang indah dan puitis ala-ala tulisan saya di 2 buku sebelumnya, hehehehe.
And finally, it's DONE.
Soal judul dan cover, sudah saya share di catatan sebelumnya. Yang pasti, terima kasih luar biasa untuk teman-teman GagasMedia yang memperlakukan naskah saya dengan sangat layak (merasa terhormat bisa kerja sama bareng kalian). Designer covernya yang super filosofis (nggak pernah mikir, ada makna-makna terselubung di balik setiap detail covernya). Editor yang sudah menyempurnakan tulisan saya jadi lebih enak dibaca. Dan, orang yang berkali-kali ngomel di telepon dan bikin saya mingkem kalo ketemu (karena nggak tahu harus ngomong apa saking pinternya beliau membaca dan mengoreksi naskah), yeah, Mr. Christian Simamora, I adore you so much. Berharap novel ini bukan jadi yang pertama dan terakhir sekaligus.
And, here it is...
Naskah ini berwujud dan berdimensi sekarang...
BEFORE US bisa didapatkan di toko-toko buku mulai Februari ini.











